Malam itu malam Terakhir
5 Juni, 2009
Assalamualaikum,wr.wb..
“Mamah”, begitulah saya kerap memanggilnya. Beliau seorang Mamah (Ibu) yang sangat memperhatikan kebutuhan, kesehatan, kehidupan (suami, 3 anak-anaknya, dan saudara-saudara beliau). Beliau anak ke-dua dari 6 bersaudara. Selalu menjalankan ibadah kepada Allah SWT, membimbing anak-anaknya menjadi anak yang soleh dan solehah. Beliau seorang Guru Sekolah Dasar (SD), beliau seorang Guru yang berprestasi. Jenjang karir sebagai Guru tidak ada halangan yang tidak bisa beliau lewati, beliau memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya terlebih kepada keluarganya. Sangat bertanggung jawab, mandiri, hati – hati, perhatian, ramah tamah.
Berawal dari batuk yang gak henti-henti sejak sekitar bulan Februari 2008, sampai-sampai setiap batuk tidak tahan untuk menahan pipisnya, karena begitu kuatnya desakan batuk itu.
Melewati kurang lebih satu minggu, batuknya juga gak kunjung henti. Bapak saya membawa Mamah saya untuk berobat ke Dokter. Setelah konsultasi ke dokter, dokter memberi obat batuk biasa mungkin karena prediksi dokter adalah batuk kering biasa. Obat itu rajin di minum mamah saya, karena mamah saya tidak pernah menyepelekan penyakit. Sekecil apapun penyakit itu, mamah saya selalu berusaha untuk sembuh dan selalu ada untuk kami, mereka, siapapun yang disayanginya.
Memasuki bulan ke 3 tahun 2008, batuk masih saja diderita. Bapak saya selalu mengantarkan mamah saya untuk selalu control ke Dokter. Waktu itu kami (anak-anaknya) juga menerima diagnose dari dokter, sehingga beranggapan itu hanya batuk biasa. Terus membimbing mamah untuk terus berobat.
Memasuki bulan ke 5 tahun 2008, pada saat itu, bapak saya mendapat Training dari perusahaan tempat Bapak saya bekerja selama 3 hari, yang diadakan di kota Malang. Bapak saya selalu bersama Mamah saya, mengajaknya untuk menemaninya Training. Keadaan mamah saya pada saat itu masih Batuk, dan Beliau merasa tidak nyaman dan sakit karena Batuknya, tetapi Beliau tetap semangat untuk menemani Bapak saya. Setelah 3 hari selesai Training, orang Tua saya menuju Magetan (tempat kelahiran Bapak & Mamah saya), bertemu dengan orang Tua (Nenek saya) dan saudara-saudara. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta untuk bertemu saya yang sedang menyelesaikan kuliah di Jogja dan bertemu dengan suadara-saudara yang ada di Jogja. Waktu itu saya melihat Mamah saya kurus sekali, saya sangat kaget dari Batuk beliau menjadi kurus. Sebelum batuk, kodisi fisik Mamah saya berisi, karena mamah saya sangat memperhatikan pola makan, menu makanan, jadwal makan. Kemudian Bapak dan Mamah saya kembali ke Balikpapan (kediaman kami).
Semangat, itu yang terpancar dari Mamah saya. Batuknya masih saja ada dan semakin sering. Bapak saya selalu menemani Mamah untuk periksakan penyakitnya, sampai ditemukan ada benjolan di punggung, kepala bagian belakang. Benjolan kecil seperti kelenjar yang kemudian di operasi di Rumah Sakit Restu Ibu Balikpapan. Benjolan itu hilang tetapi Batuk Mamah saya masih ada.
Memasuki bulan oktober, saya kembali ke Balikpapan. Pada saat itu dalam suasana Ramadhan. Batuk mamah saya masih sering dan semakin sering. Mamah saya masih semangat untuk mempersiapkan makanan Sahur dan Berbuka. Kagum, kagum, kagum itu yang saya rasakan pada Mamah saya sebagai istri dan Mamah (ibu). Sampai akhirnya memasuki bulan Syawal, Idul Fitri di tahun 2008 merupakan Idul Fitri terakhir buat Mamah saya merayakannya dengan suami dan anak-anaknya.
Pada tanggal 19 oktober 2008, saya kembali ke jogja karena saya akan di wisuda (lulus dari pendidikan S1) pada tanggal 25 oktober 2008. Sebelumnya saya mencarikan Tiket pesawat Bapak dan Mamah saya untuk menghadiri wisuda saya. Tetapi pada tanggal 23 oktober 2008, Mamah saya dirujuk ke Rumah Sakit di Jakarta. Mamah saya berangkat ditemanin Bapak saya yang selalu mendampinginya dan sampai akhirnya pada saat wisuda beliau hanya mengucapkan selamat dari jarak jauh dengan perjuangannya untuk dapat sembuh dari penyakitnya.
Wisuda telah selesai, saya menelepon Bapak & Mamah saya untuk mengucapkan terima kasih yang sangat luar biasa, karena tanpa mereka, saya tidak menjadi sarjana seperti saat ini. Rencana saya akan dating ke Jakarta untuk menjenguk Mamah saya, tetapi saya mendapat panggilan kerja di Balikpapan. Bapak & Mamah saya bilang, “kamu langsung ke Balikpapan aja, kita ketemu di Balikpapan aja karena mungkin sebentar lagi Mamah kembali ke Balikpapan”. Akhirnya tepat tanggal 28 oktober 2008, saya kembali ke Balikpapan dan pada tanggal 29 oktober 2008, saya dating ke perusahaan itu untuk interview sampai akhirnya saya diterima untuk bekerja, itu semua karena Doa dari Bapak & Mamah saya. Tetapi selama 1 bulan Mamah saya belum pulang ke Balikpapan, sampai akhirnya Mamah saya terdiagnosa penyakit “Kanker Paru-paru” dan “Pleuria effusin** (terdapat cairan di paru-paru yang di akibatkan oleh Kanker)”, saya sangat kaget (kenapa dokter sangat lamban untuk mendapatkan penyakit sebenarnya, apa mungkin anggapan sebelumnya yang menganggap itu adalah Batuk biasa dan tidak memeriksanya dengan lebih lanjut saat itu). Dan kemudian dokter melakukan Kemo Terapi, kata dokter akan menjalani Kemo Terapi sebanyak satu paket (kurang lebih 4 sampai 6 kali).
Akhir Nopember Bapak & Mamah saya kembali ke Balikpapan setelah melakukan Kemo Terpai yang pertama. Seperti yang kita tau, Kemo Terapi mematikan sumber penyakit dan sel tubuh yang baik pun ikut mati. kondisi Mamah saya semakin melemah. Kami terus memberi support kepada Mamah. pada saat itu Mamah masih membuat masakan buat kami, kami sangat kaget & terharu sekali. Kami bilang “gak usah masak Mah, Mamah istirahat aja”. Pada tanggal 5 Nopember 2009, Mamah saya kembali ke Jakarta dengan Bapak untuk melakukan Kemo Terapi yang kedua. Saya ingin sekali mendampingi Mamah saya, tapi kata Bapak saya “kamu di Balikpapan aja, selain keuangan yang sangat dibutuhkan, kamu juga baru kerja, Bapak yang temanin Mamah berobat ke Jakarta”. Seminggu di Jakarta untuk Kemo Terapi yang kedua. Setelah Kemo Terapi yang kedua, Mamah saya tambah semakin melemah dan sangat Drop melihat kondisinya, rambutnya Mulai rontok hingga beberapa helai.
Kemo Terapi yang kedua merupakan Kemo Terapi yang terakhir dilakukan Mamah saya. Mamah tidak mau untuk di Kemo Terapi lagi karena sangat sakit katanya. Kami memutuskan untuk menyudahi Kemo Terapi karena kondisi Mamah yang sangat lemah dan informasi-informasi kesehatan yang kami terima dan baca. Kemudian mencoba untuk pengobatan alternatif (buka Dukun). Semangat dan Tanggung jawab Mamah sebagai Guru sangat besar, Mamah saya masih mengajar setelah kurang lebih seminggu sepulangnya dari Kemo Terapi yang kedua. Pagi saya mengantarnya ke sekolah karena tidak kuat lagi untuk membawa motor sendiri, kalau Bapak saya libur kerja pasti mengantarnya ke sekolah (bapak saya kembali kerja karena sudah sering dan tidak sebentar ijin untuk menemani Mamah saya berobat). Ketika istirahat kerja, saya jemput Mamah saya di sekolah sekitar jam satu siang. Mamah saya selalu membawa bekal ke sekolah, karena menu makanan beliau tidak seperti biasanya (tidak berminyak dan tidak mengandung lemak,karena pantangan penderita kanker). Mamah saya sangat disiplin dalam menu makanan karena saran dari dokter dan pengobatan alternatif. Berbagai alternatif sudah dicoba Mamah saya, referensi dari kerabat, saudara, tetangga.
Awal maret 2009, Mamah saya sudah tidak mengajar, karena tidak tahan menahan sakitnya dan sesak Nafasnya karena cairan di dalam Paru-parunya. Di rumah sedia tabung Oksigen untuk Mamah kalau merasa sesak. Sampai akhirnya pada tanggal 18 maret 2008, Mamah dibawa ke Rumah sakit pertamina Balikpapan. Dokter melakukan difungsi (menyedot cairan di dalam paru-paru) dan itu sangat sakit kata Mamah. setelah satu bulan di Rumah Sakit, nafas Mamah terlihat membaik, tetapi mamah masih lemah dan tidak dapat berdiri sendiri. Kemudian Mamah diijinkan oleh Dokter untuk istirahat di Rumah.
Rumah Depan (Bapak, Mamah, Saya, Adik) yang biasa kami tinggali kalau siang kosong karna pada kerja dan adik saya kuliah di Samarinda, jadi kami putuskan Mamah untuk istirahat di Rumah Belakang (Kakak, suaminya, anaknya, om saya / adiknya Mamah). karna kalau siang ada Bude (yang jaga anaknya Kakak), dan sepupu saya juga selalu datang ke Rumah dari pagi sampai sore untuk menjaga Mamah. Kalau pagi, Mamah sering meminta untuk di angkat dan duduk di teras Rumah agar terkena sinar matahari. Sempat beberapa hari Mamah terlihat segar dari sebelumnya. Sampai kurang lebih 2 minggu, Mamah kembali ke Rumah Sakit karena Cairan dalam Paru-parunya mulai membuat Nafas Mamah menjadi sesak. Jam setengah 7 sabtu malam kami membawa Mamah ke Rumah Sakit, beliau berkata “disini Oksigennya enak, beda dengan yang di rumah”,’sambil tersenyum sumringah, kami pun tersenyum dan sambil mencium Mamah berharap dan selalu berusaha agar Mamah dapat sembuh dari penyakitnya. Kemudian doktermelakukan difungsi lagi, setelah itu Mamah terlihat agak mendingan, makannya juga sudah mulai banyak.
Waktu terus berputar meninggalkan hari kemarin, sampai akhirnya memasuki minggu ke – 4 di Rumah sakit, Mamah mulai terasa sesak lagi yang tidak tertahankan. Sekitar tanggal 31 Mei 2009, Mamah sangat menurun kondisinya. Setiap hari setiap malam merasa kesakitan seluruh badannya dan merasa sangat sesak. Mamah meminta untuk disedot kembali cairan dalam Paru-parunya, kemudian Dokter melakukan Rontgen untuk melihat keadaan Paru-paru Mamah, memastikan apakah di dalam paru-paru itu benar-benar berupa cairan atau sudah terjadi pembekuan dari cairan tersebut, karna jika sudah membeku, maka dokter tidak berani untuk menyedot cairan di dalam Paru-paru. Jika disedot maka jarum akan menembus dinding pembekuan cairan tadi, sehingga terjadi pendarahan yang hebat “kata dokter. Kemudian hari ke dua setelah Rontgen dokter memutuskan untuk menyedot cairan di paru-paru. Kami disuruh keluar kamar, alat-alat untuk menyedot sudah siap di dalam kamar Mamah saya. Hingga akhirnya dokter membatalkan untuk melakukan Difungsi karena Mamah saya tidak bisa duduk tegap untuk dimasukkan jarum dari paru-paru sebelah kanan. Dokter mengundur sampai Mamah bisa tegak duduk. Mamah saya selalu miring ke kanan jika Tidur, karena kalau telentang atau miring ke kiri sangat sesak katanya. Sebelumnya untuk duduk tegap, Mamah saya masih sanggup, tapi pada saat-saat itu bner-bner tidak sanggup.
Malam itu tanggal 2 juni 2009. Saya, Bapak, Mbah (ibu dari Mamah) mendampingi Mamah. Bapak dan Mbah selalu mendampingi Mamah di Rumah Sakit. Malam itu Mamah merasa sesak sekali, dan meminta kepada suster untuk di sedot, tapi suster selalu berkata seperti yang di bilang oleh Dokter.
Malam itu mamah kesakitan, sangat sakit. Kami terus berdoa memohon kesembuan Mamah, memanjatkan puji syukur , doa, dzikir, shalawat kebesaranNya Allah SWT. Kurang lebih 4 jam Mamah merasa kesakitan yang luar biasa itu. Mamah berkata “besok udah pulang “dalam sakitnya. Saya merasa ada sesuatu yang tidak biasanya saya Rasakan, tapi saya menyangkalnya karena sangat berharap kesembuhan Mamah. Kemudian Mamah berkata pada kami “Sudah selesai semua Her, sekarang ngapain ?”, saya jawab “sekarang tidur Mah”, pikiran Mamah masih sangat sadar, setelah saya minta untuk Tidur, Mamah saya Berdoa sebelum Tidur “Bismika Allahumma ahya wabismika amud”, saya mengiringinya berdoa. Tiba-tiba Mamah menjadi tenang, seolah-olah Mamah sedang Tidur, tapi Kelopak matanya tidak tertutup, dan mulutnya selalu bergerak seolah menyebut asma Allah SWT. Kami memberi makan, beliau memakannya, dan meminumkan obat dengan tidak ada tolakan apapun, Mamah hanya Diam. Matanya terus terbuka hingga jam 6 pagi (tanggal 3 Juni 2009), kemudian saat menuju jam 7 Mamah akhirnya memejamkan matanya, tetapi masih bernafas dan sangat tenang. Kami berfikir Mamah sedang tidur karena semalaman tidak tidur, kami benarkan posisi tidurnya, tidak sedikitpun merasa sakit atau berkomentar, sampai kami mengganti bajunya dan membasuh dengan air bersih, Mamah masih terpejam dan masih bernafas. Kami tidak menyadari kalau Mamah sedang tidak sadarkan Diri. Saya sama sekali tidak beranjak untuk pergi bekerja seperti biasanya. Kami terus di samping Mamah.
Hingga jam 8 pagi, nafas Mamah semakin berat. Akhirnya dokter melakukan tindakan emergency, suasana menjadi haru, tidak ada yang sanggup menahan air mata. Bapak saya yang begitu tegar tidak sanggup menahan tangisnya. Kami berdoa, berdoa, berdoa kepada Allah SWT. Membisikkan dua kalimat syahadat di telinga Mamah, terus bersyalawat menjunjung besar nabi Muhammad SAW. Terus membisikkan di telinga Mamah, membaca yasin, kakak membaca Al Qur’an. Semua sudah berkumpul di Rumah sakit, dokter dan perawatnya terus berusaha menyelamatkan Mamah. Memberikan nafas bantuan, belum juga sadarkan diri. Kemudian air mata Mamah menetes, kami semakin tidak tahan untuk menahan air mata. Kami meminta maaf pada Mamah, Terus ber-Shalawat, saya membasuh air mata Mamah yang menetes hingga akhirnya jam 13:05 WITA tanggal 3 Juni 2009 Mamah kembali ke pangkuan Allah SWT. Kami tidak menyangka malam itu. Mamah telah tiada, Mamah pergi lebih dulu kembali ke pangkuan Allah SWT. Dan Alm.Mamah dikebumikan pada hari itu juga, setelah Ashar.
Ya Allah, hapuskanlah dosa Mamah saya, lapangkanlah jalan Beliau menuju Surga-Mu. Berikanlah yang terbaik untuk Beliau. Selalu bimbing kami untuk menjadi hamba yang selalu berada di jalanmu, menjauhi segala larangan-Mu dan mejalani segala Perintah-Mu.
Amiinn, Amiin Allahuma Amin…
Selamat jalan Mah, kami sangat menyayangimu. Kami pasti merindukanmu. Kami tidak menyangka semua terjadi begitu cepat, ikhlas kepada Allah SWT.
Wasslamualaikum,wr.wb.. Mah
Entry Filed under: Life of LeBen. .
11 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
yusdi | 8 Juni, 2009 at 1:33 am
aminnnnn……..
semoga kamu dan keluargamu tabah ya her…..
kamu masih punya kami, teman2mu….
2.
item | 8 Juni, 2009 at 2:05 am
her,,aku juga merasakan apa yang kamu rasakan,,,bagiku mamah mu adalah ibu ku juga….
sabar ya her,,,salam buat keluarga ya…
aku abis sakit jadi belum bisa kerumah lagi…
3.
ningnong | 8 Juni, 2009 at 6:42 am
amien… aku jg tau rasanya ortu g dtg wisuda…
amein3x ya Rabbal ‘alamien…
smg bliau slalu tenang di sana
dan smg kubur bliau jadi taman surga di sana…
amien..
iyah, kmu masi punya kami.. sodara2mu..
4.
mbak_cute | 8 Juni, 2009 at 7:36 am
Innalilahhi wa innailaihi roji’un…
Semoga Allah mengampuni dosa2 mamah, melapangkan kuburnya, menerima amal ibadahnya, memberikan mamahmu tempat terbaik di sisi-Nya, dan kelak mempertemukan kalian sekeluarga di dalam Jannah-Nya… amien…
Manusia sebenarnya tidak pernah mati, tapi hanya “berpindah alam”. Dunia hanya satu dari beberapa tempat persinggahan yg Allah siapkan untuk manusia, setelah alam ruh dan alam rahim,.. karena kelak pada akhirnya manusia akan berada pada alam kehidupan yg abadi, yaitu alam akhirat…insya Allah…
Dari Abu Hurairah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda: “Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akannya” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrad).
Jasa kedua orang tua terutama ibu, memang tak dapat terbalaskan dengan apapun. Maka, semoga kita dapat menjadi salah satu pemberi pahala bagi kedua orang tua kita, yaitu dengan menjadi anak sholih yg selalu mendoakan mereka berdua…amien…Allahumma amien….
5.
Kiky | 8 Juni, 2009 at 8:30 am
Assalamualaikum…
Jadikanlah sabar & shalat sebagai penolongmu…
& sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat…
kecuali bagi orang2 yang khusyu…
(QS. Al-Baqarah,2:45)
Cit..qi sedih baca tulisanmu…
smga ALLAH memberikan kekuatan utkmu sekeluarga…
Ikhlas..tdk semudah yg qi ucapakn..
tp hanya itulah yang bisa dilakukan…
karena dengan ikhlas hati menjadi lebih tenang..
Pada akhirnya qt smw pasti kembali kpdNYA…
Ibu pasti mendapatkan te4 terbaik disisiNYA…
3 perkara yang tidak pernah putus amal ibadahnya :
1. Amal jariah
2. Ilmu yang berguna dan dimanfaatkan oleh pengamalnya
3. Anak yang soleh yang tidak lupa mendoakan ibu bapanya
jadilah yang ke3 cit…
Ibu pasti bahagia disana..
^_^
NB : ingat ya..qi2,yogi,untung,eyi..sllu ada bwt km…^_^
6.
ezZa | 14 Juni, 2009 at 3:08 am
yang penting ikhlas ya her..
doakanlah selalu mamamu agar dia tersenyum bahagia disana..
7.
fahmy | 14 Juni, 2009 at 3:32 am
Inna lillahi wa inna Ilaihi Rajiun…
amin….
Tabah ya her….
Kita udh seperti sodara…
kesedihan ini bkn cuma heri…tpi kami jg ikut sedih…
kami meneteskan air mata membaca tulisan ini….
ttp kuat ya her….jadi anak baik&soleh..
mama heri pasti bagga dgn heri…
8.
dewik | 14 Juni, 2009 at 10:39 am
aku terharu baca tulisan ini….
T.T
sabar ya sexy…..
SEMANGAT!!!!
9.
paris | 19 Juni, 2009 at 9:15 pm
her,,aq baru baca blog mu her,,,
tu pun baru tau dr fahmy,,,
coz aq dah g pernah OL.
aq bs berkata apa2 her,,
selain
“yang tabah ya,,her,,semua pasti da hikmah nya”
aq terharu banget baca tulisan mu,,,
tetap semangat sahabat,,,,
10.
Eka YS | 20 Juni, 2009 at 12:00 pm
amin….aq terharu ndul….aq inget masa2 ibuqu dulu sakit…krn tumor dikepalanya….alhamdulillah skrg beliau udah sembuh walaupun masih terus kontrol…
sabar yah her,,,,,semoga almarhumah bs lebih tenang n bahagia di pangkuan Allah Swt. amin………….
11.
ociet | 29 Juli, 2009 at 2:06 am
Amiiinnn….